Detak Media — TANGERANG – Implementasi program biodiesel B50 diperkirakan akan membuka prospek cerah bagi industri kendaraan niaga. Peningkatan kebutuhan biodiesel diprediksi mendorong aktivitas sektor perkebunan kelapa sawit, logistik, hingga distribusi, yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan armada niaga.
Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Aji Jaya, menyatakan sektor perkebunan berpotensi memperoleh manfaat langsung dari B50 karena merupakan pemasok utama bahan baku biodiesel. Sekitar 20% kendaraan Mitsubishi Fuso saat ini digunakan di sektor perkebunan, sementara sektor logistik masih menjadi pengguna terbesar armada Fuso.
“Ketika aktivitas perkebunan meningkat, kebutuhan kendaraan operasional juga akan bertambah. Ini menjadi peluang pasar yang sangat potensial bagi kami,” ujar Aji di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan, Fuso memiliki posisi kuat di sektor perkebunan, terutama pada kendaraan off-road seperti Canter FE SHD untuk operasional di area kebun. Aji menilai B50 berpotensi menciptakan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi, mulai dari peningkatan produksi biodiesel, kebutuhan distribusi bahan baku, pengangkutan hasil perkebunan, hingga aktivitas logistik lainnya yang membutuhkan tambahan armada kendaraan niaga.
Untuk menangkap peluang tersebut, Mitsubishi Fuso mengandalkan pengalaman panjang melayani pelanggan di sektor perkebunan. “Masukan dari pelanggan menjadi dasar pengembangan produk dan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan,” katanya.
Selain menyiapkan produk, perusahaan juga memperkuat layanan purnajual melalui jaringan dealer, ketersediaan suku cadang, serta dukungan teknis bagi pelanggan di wilayah perkebunan yang jauh dari pusat kota. Fuso memastikan seluruh produknya telah siap menggunakan bahan bakar B50 setelah melakukan pengujian kendaraan hingga jarak tempuh sekitar 40.000 kilometer tanpa menemukan kendala signifikan.
“Kami mendukung penuh program pemerintah terkait implementasi B50. Dari hasil pengujian yang kami lakukan, tidak ditemukan masalah signifikan pada kendaraan,” kata Aji.
Meskipun demikian, Fuso mengingatkan pelanggan untuk tetap disiplin menjalankan perawatan berkala, khususnya pada komponen sistem bahan bakar seperti filter bahan bakar dan injektor. Perusahaan juga merekomendasikan penggunaan additional fuel filter dan injector cleaner untuk menjaga performa kendaraan dalam jangka panjang.
Kesiapan Produk Merek Lain
Business Solutions Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Anjar Rosjadi, menyatakan Isuzu juga mendukung penuh implementasi B50 dan telah melakukan pengujian ekstensif untuk memastikan kesiapan produknya. Pengujian dilakukan pada berbagai model, mulai dari Isuzu Traga hingga Isuzu Giga, dengan jarak tempuh mencapai 60.000 kilometer.
“Hasilnya cukup positif. Sampai 60.000 kilometer tidak ada masalah berarti. Performa normal, efisiensi normal, dan keandalan kendaraan juga tetap baik,” ujar Anjar.
Ia menambahkan, hingga saat ini pihaknya belum menemukan indikasi gangguan pada sistem injeksi yang kerap menjadi perhatian dalam penggunaan biodiesel dengan kandungan lebih tinggi. Anjar menegaskan kunci utama penggunaan B50 adalah memastikan bahan bakar berasal dari sumber resmi dan terpercaya serta menjalankan perawatan berkala secara disiplin sesuai rekomendasi pabrikan.
Menurut Isuzu, implementasi B50 berpotensi mendorong pertumbuhan pasar kendaraan niaga karena meningkatnya aktivitas di sektor perkebunan, logistik, distribusi, dan transportasi barang. Namun, Anjar menegaskan fokus utama perusahaan bukan semata mengejar kenaikan penjualan, melainkan memastikan kendaraan tetap andal dan efisien saat menggunakan B50.
“B50 adalah program yang baik bagi Indonesia karena mendukung ketahanan energi nasional. Fokus kami adalah memastikan kendaraan Isuzu aman, normal, dan tetap efisien menggunakan B50,” kata dia.
Sementara itu, PT Toyota Astra Motor (TAM) memastikan Hilux generasi ke-9 yang diimpor utuh (completely built up/CBU) dari Thailand telah kompatibel dengan bahan bakar biodiesel B50. Kepastian ini didasarkan pada penggunaan mesin diesel 1GD-FTV 2.755 cc yang sama dengan Toyota Fortuner terbaru, yang sebelumnya telah dinyatakan siap menggunakan solar dengan campuran biodiesel 50%.
Direktur Pemasaran PT TAM, Bansar Maduma, mengimbau konsumen menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi yang tercantum dalam buku panduan kendaraan. Pasalnya, pengujian penggunaan B50 secara spesifik pada Hilux generasi terbaru masih belum dilakukan. “Tapi tetap, kami selalu menyarankan customer menggunakan fuel sesuai manual book,” kata Bansar.
Dampak pada Ekspor Sawit
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan fraksinya (HS 1511) sepanjang semester I 2026 masih tumbuh 7,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan semester I 2025 yang mencapai 24,80%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menerangkan penerapan mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026 berpotensi memengaruhi volume ekspor minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia pada semester II 2026. Dampak kebijakan tersebut terhadap ekspor CPO masih perlu dikaji lebih lanjut.
“Hasilnya seperti apa, kita tunggu saja nanti pada rilis berikutnya. Hal ini tentunya perlu dikaji lebih lanjut, antara lain melibatkan berbagai informasi seperti produksi dan persediaan minyak sawit, kemudian peningkatan permintaan di dalam negeri, serta harga minyak sawit di domestik maupun internasional,” kata dia.
Pelaksanaan B50 mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai kewajiban pencampuran biodiesel 50 persen pada minyak solar. Dalam masa transisi, pemerintah memberikan waktu kepada badan usaha penyedia BBM hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok B40 sebelum beralih sepenuhnya ke B50.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.